
Age: 39
male
Reza Rahadian (born in Bogor, Indonesia on March 5, 1987) is an Indonesian actor. Born in Bogor, he took up acting while in senior high school and made his feature film debut in 2004. Since receiving his first Citra Award in 2009, he has acted in over a dozen films, ranging from comedies and romances to dramas and biopics. He is widely recognized as one of the most talented and versatile actors in Indonesian cinema, known for his ability to embody diverse characters across various genres. Reza began his acting career in television before making his breakthrough in films. His role in Perempuan Berkalung Sorban (2009) earned him the Best Supporting Actor award at the Indonesian Film Festival. He later gained widespread acclaim for portraying Indonesia’s third president, B.J. Habibie, in Habibie & Ainun (2012), a role he reprised in Rudy Habibie (2016) and Habibie & Ainun 3 (2019). Throughout his career, Reza has starred in numerous critically acclaimed and commercially successful films, including My Stupid Boss (2016), Imperfect (2019), Surga Yang Tak Dirindukan (2015), Gadis Kretek (2023), and many more. His ability to seamlessly transition between drama, comedy, and historical roles has made him a favorite among audiences and filmmakers alike. Beyond acting, Reza is also involved in theater, directing, and serves as a jury member for film festivals. His contributions to Indonesian cinema have earned him multiple awards, including several Citra Awards, solidifying his status as one of Indonesia’s most respected and influential actors.

Dwitunggal bangsa Indonesia, Dynamic-Duo, Soekarno -Hatta. Merka adalah dua individu yang seolah menjadi satu - senyawa. Dua sahabat yang bercita-cita dan berjuang untuk Indonesia yang merdeka Berdaulat, Adil dan Makmur. Pemulaan konflik besar pertama antara dwitunggal terjadi saat Soekarno dan tiga rekannya, Gatot Mangkupraja, Soepriadinata dan Maskun Sumadiredja ditangkap Belanda. Hal ini tertuang pada otobiografi Hatta berjudul 'Untuk Negeriku: Berjuang dan Dibuang' Setelah penangkapan itu, Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikannya bubar. Petinggi partai membentuk partai baru bernama Partai Indonesia (Partindo).. Hatta menyesalkan hal itu terjadi dan tidak setuju pembentukan Partai Indonesia akhirnya membentuk PNI-Baru atau Pendidikan Nasional Indonesia. Dan Soekarno bergabung ke Partindo. Sebenarnya Hatta berharap banyak dari PNI. Namun, politik agitasi ala Soekarno malah berakibat antiklimaks. "Pembubaran PNI memalukan dan perbuatan itu melemahkan pergerakan rakyat," ucap Hatta dalam buku itu. Namun mereka berdua tidak mematahkan persahabatan, mereka hanya berbeda arah memandang, anggaplah jika didalam sebuah kendaran, katakanlah mobil, Soekrarno melihat ke kiri sedang Hatta melihat ke kanan atau sebaliknya Soekarno melihat ke kanan dan Hatta melihat ke kiri, namun satu tujuan bersama, Kemerdekaan bangsa Indonesia.

