
Age: 44
male
Oka Antara is an Indonesian actor (born on July 8, 1981). He began his career in entertainment as a model and presenter before venturing into acting. Oka gained widespread recognition after starring in the film Ayat-Ayat Cinta (2008) as a supporting actor. His role as Eka in The Raid 2: Berandal (2014) further cemented his name in the film industry, especially in the action genre. He has also appeared in several notable films such as Sang Penari (2011), Killers (2014), Kartini (2017), Foxtrot Six (2019), and Gadis Kretek (2023). Known for his strong acting skills and deep expressions, Oka Antara often portrays complex characters in action, drama, and thriller films. He is also active in television and frequently stars in drama series that gain widespread attention.

Dwitunggal bangsa Indonesia, Dynamic-Duo, Soekarno -Hatta. Merka adalah dua individu yang seolah menjadi satu - senyawa. Dua sahabat yang bercita-cita dan berjuang untuk Indonesia yang merdeka Berdaulat, Adil dan Makmur. Pemulaan konflik besar pertama antara dwitunggal terjadi saat Soekarno dan tiga rekannya, Gatot Mangkupraja, Soepriadinata dan Maskun Sumadiredja ditangkap Belanda. Hal ini tertuang pada otobiografi Hatta berjudul 'Untuk Negeriku: Berjuang dan Dibuang' Setelah penangkapan itu, Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikannya bubar. Petinggi partai membentuk partai baru bernama Partai Indonesia (Partindo).. Hatta menyesalkan hal itu terjadi dan tidak setuju pembentukan Partai Indonesia akhirnya membentuk PNI-Baru atau Pendidikan Nasional Indonesia. Dan Soekarno bergabung ke Partindo. Sebenarnya Hatta berharap banyak dari PNI. Namun, politik agitasi ala Soekarno malah berakibat antiklimaks. "Pembubaran PNI memalukan dan perbuatan itu melemahkan pergerakan rakyat," ucap Hatta dalam buku itu. Namun mereka berdua tidak mematahkan persahabatan, mereka hanya berbeda arah memandang, anggaplah jika didalam sebuah kendaran, katakanlah mobil, Soekrarno melihat ke kiri sedang Hatta melihat ke kanan atau sebaliknya Soekarno melihat ke kanan dan Hatta melihat ke kiri, namun satu tujuan bersama, Kemerdekaan bangsa Indonesia.
