
Age: 68
male
Arswendy Beningswara Nasution (born on November 22, 1957) is an Indonesian actor, acting coach, and director of Mandailing descent. He studied Performing Arts at the Jakarta Institute of the Arts (IKJ) from 1978 to 1982. His career began in theater, joining Teater Mandiri, led by Putu Wijaya. His film debut was Opera Jakarta in 1985. In addition to acting, Arswendy is also known as an acting coach for various films, such as Denias, Senandung Di Atas Awan and Merah Putih. Some of his most notable films include Satan’s Slaves (2017) as Ustad, Two Blue Stripes (2019) as Rudy, and Missing Home (2022) as Pak Domu. His role in Autobiography (2022) earned him the Best Actor award at the Marrakech International Film Festival. In his personal life, Arswendy is the father of Eno Bening, a well-known Indonesian YouTuber. With over three decades of experience, Arswendy Beningswara Nasution continues to make significant contributions to the Indonesian film and theater industry.

Arswendy Bening Swara

H. Agus Salim
for H. Agus Salim in The Proclamators
Suggested by alrizky

Dwitunggal bangsa Indonesia, Dynamic-Duo, Soekarno -Hatta. Merka adalah dua individu yang seolah menjadi satu - senyawa. Dua sahabat yang bercita-cita dan berjuang untuk Indonesia yang merdeka Berdaulat, Adil dan Makmur. Pemulaan konflik besar pertama antara dwitunggal terjadi saat Soekarno dan tiga rekannya, Gatot Mangkupraja, Soepriadinata dan Maskun Sumadiredja ditangkap Belanda. Hal ini tertuang pada otobiografi Hatta berjudul 'Untuk Negeriku: Berjuang dan Dibuang' Setelah penangkapan itu, Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikannya bubar. Petinggi partai membentuk partai baru bernama Partai Indonesia (Partindo).. Hatta menyesalkan hal itu terjadi dan tidak setuju pembentukan Partai Indonesia akhirnya membentuk PNI-Baru atau Pendidikan Nasional Indonesia. Dan Soekarno bergabung ke Partindo. Sebenarnya Hatta berharap banyak dari PNI. Namun, politik agitasi ala Soekarno malah berakibat antiklimaks. "Pembubaran PNI memalukan dan perbuatan itu melemahkan pergerakan rakyat," ucap Hatta dalam buku itu. Namun mereka berdua tidak mematahkan persahabatan, mereka hanya berbeda arah memandang, anggaplah jika didalam sebuah kendaran, katakanlah mobil, Soekrarno melihat ke kiri sedang Hatta melihat ke kanan atau sebaliknya Soekarno melihat ke kanan dan Hatta melihat ke kiri, namun satu tujuan bersama, Kemerdekaan bangsa Indonesia.